Gubernur Irwan: Pers Mesti Kritis Namun Introspektif

Filed under: Berita,DPP PKS,Headline,Kegiatan,Sumbar - Riau,Tak Berkategori,Wilayah |

PADANG-Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan, pers mesti kritis dalam mewujudkan perannya yang ideal bagi masyarakat. Namun seiring dengan itu, kalangan pers juga perlu introspektif memperbaiki berbagai kekurangannya.

Pernyataan tersebut disampaikan gubernur secara tertulis yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Febri Erizon pada pembukaan Workshop Jurnalis dengan Humas se-Sumatera Barat yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang bersama Yayasan Tifa di Hotel Rocky Padang, Sabtu (11/2/2012).

Acara tersebut diikuti sedikitnya 50 pejabat humas dari pemerintah provinsi, pemerintah kota dan kabupaten, DPRD, BUMN dan BUMD, perguruan tinggi, instansi swasta, LSM Sumatera Barat, dan 10 jurnalis AJI Padang.

Gubernur menyambut baik acara workshop yang salah satunya bertujuan untuk meminta masukan Humas bagi perbaikan kepatuhan jurnalis dan pers terhadap etika jurnalistik.

Meski UU No 40 tahun 1999 tentang Pers sudah lama diundangkan, Gubernur mengakui masih terdapat berbagai masalah dalam pelaksanaan tugas-tugas jurnalis di lapangan, di antaranya adanya fakta kekerasan, kriminalisasi, bahkan pembunuhan terhadap jurnalis di berbagai daerah di Indonesia.

“Sebagian pihak menganggap ini terjadi karena masih lalainya institusi pers dalam menjalankan kode etik jurnaistik dan rendahnya kinerja pers, sebagian pihak menyatakan karena masih minimnya kesadaran berbagai pihak terhadap kemerdekaan pers,” katanya.

Gubernur Sumbar juga mengkritik masih adanya berita yang dibuat oleh jurnalis tidak didasarkan fakta di lapangan.

“Lebih dari itu, juga ada penggunaan produk jurnalistik bukan untuk tujuan memenuhi hak informasi publik, lebih sebagai bentuk pemerasan terhadap pihak yang diberitakan, baik secara kasar maupun kekeluargaan,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, acara workshop jurnalis dengan humas seperti yang diadakan AJI Padang bisa memberi kontribusi untuk berbagai upaya perbaikan tersebut.

Semua ini membutuhkan proses panjang yang simultan, kita yakin dan berkeinginan menjadikan pers tetap kritis dan introspektif dalam mewujudkan kinerja pers yang ideal,” ujarnya.

Febri Erison menyampaikan maaf Gubernur Irwan Prayitno tidak bisa membuka langsung karena sedang berada di Jakarta memberikan penghargaan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif. Syamsul dinilai berjasa membantu rehabilitasi dan rokunstruksi bencana gempa dan tsunami di Sumatera Barat.

Workshop Jurnalis dengan Humas se-Sumbar menghadirkan sebagai pembicara Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo, Humas Pemprov Sumbar Surya Budhi, Koordinator Divisi Etik dan Provesi AJI Indonesi Willy Pramudya, dan Ketua Majelis Etik AJI Padang Syofiardi Bachyul Jb.

Dalam penyampaiannya, Agus Sudibyo mengimbau humas agar mengadukan setiap pelanggaran etik yang dilakukan jurnalis maupun orang yang mengaku-aku jurnalis kepada Dewan Pers.
“Kita akan proses laporan tersebut,” katanya. Agus menjelaskan mekanisme pengaduan etik di Dewan Pers.

Surya Budhi menyatakan, perlu ada peningkatan kerja sama antara humas sebagai ujung tombak informasi di institusinya dengan organisasi pers dan wartawan. “Acara seperti ini sangat berguna bagi humas dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari.”

Sementara, Willy Pramudya dan Syofiardi Bachyul Jb menegaskan komitmen AJI sebagai salah satu organisasi jurnalis yang diakui Dewan Pers dalam penegakan etika jurnalistik.

“Kita mengimbau, kalau bisa humas tidak lagi memberikan amplop kepada wartawan sebagai salah wujud mendukung penegakan etika jurnalistik,” kata Willy.

Ketua AJI Padang Hendra Makmur mengatakan, workshop jurnalis dengan humas merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian Program “Mematuhi Etik, Menjaga Kebebasan Pers” yang diadakan AJI Padang didukung Yayasan Tifa.

“Lewat acara kali ini, kita minta Humas memberikan masukan, saran dan kritik tentang berbagai masalah penegakan etika jurnalisti, kita tak boleh hanya mengkritik, jurnalis juga mesti bersedia dikritik,  berbagai masukan tersebut kita harapkan, bisa menjadi cermin untuk perbaikan penegakan etika jurnalistik ke depan,” katanya.

Sebelum mengadakan workshop dengan humas, pada Januari AJI Padang bersama Yayasan Tifa juga telah menggelar pelatihan etika jurnalistik terhadap 60 jurnalis se-Sumatra. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>